Selain Mengambil Hasil Bumi, Apa Lagi yang Dilakukan Penjajah?

By Irfan Sholeh, Selasa, 20 Juli 2021 | 16:30 WIB
Di Nusantara, penjajah tidak hanya mengambil hasil bumi seperti rempah-rempah. (pxhere)

adjar.id - Cobalah Adjarian pergi ke dapur. Hirup dalam-dalam aroma dapur rumah. Ada aroma apa saja? Ketumbar? Kunyit? Lada? 

Ada lagi? Singkat kata, sekian bumbu yang berada di dapur rumah kalian bisa dikategorikan sebagai rempah-rempah.

Bau ini pulalah yang membuat bangsa Eropa datang ke Nusantara yang dikenal sebagai Negeri Bawah Angin.

Perjalanan laut mereka begitu dahsyat, lo, Adjarian. Mereka belum tahu dengan pasti letak pulau-pulau di Negeri Bawah Angin.

Baca Juga: Latar Belakang, Isi, dan Dampak Perjanjian Renville bagi Indonesia 

Di laut, kondisinya bisa tidak terduga. Gelombang bisa saja menjungkir balikkan kapal sewaktu-waktu.

Nah, ketika kemudian berhasil menguasai Nusantara, apa saja yang dilakukan para penjajah, seperti Belanda dan Jepang? Apakah mereka hanya mengeruk kekayaan alam Nusantara?

 

"Rempah-rempah menjadi salah satu faktor yang membuat bangsa eropa menjelajah ke timur jauh."

 

Sekolah Zaman Pendudukan Belanda

Para penjajah tak hanya mengambil kekayaan alam negeri ini. Mereka juga tidak selalu melakukan peperangan dengan bangsa kita.

Para penjajah juga mendirikan sekolah. Pada tahun 1600an awal, Belanda sudah membuat sekolah di Ambon dan Batavia.

Pendidikan ini bertujuan mengajari pribumi baca tulis sekaligus mempermudah penyebaran agama Katolik, sesuai semboyan 3G (Gold, Glory, dan Gospel).

Memasuki abad ke-19, jumlah sekolah yang didirikan makin bertambah. Hal ini karena saat itu Belanda sedang melakukan sistem tanam paksa. Nah, mereka membutuhkan banyak tenaga ahli.

Pada akhir abad ke-19 dan abad ke-20, Belanda mengenalkan sistem pendidikan yang lebih terstruktur, yaitu:

Baca Juga: Faktor yang Melatarbelakangi Penjajahan Bangsa Barat di Indonesia

1. ELS (Europeesche Lagere School) – Sekolah dasar bagi orang eropa

2. HIS (Hollandsch-Inlandsche School) – Sekolah dasar bagi pribumi

3. MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) – Sekolah menengah.

4. AMS (Algeme(e)ne Middelbare School) – Sekolah atas.

5. HBS (Hogere Burger School) – Prauniversitas.

Beberapa perguruan tinggi juga dibuat pada masa ini, antara lain:

1. School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA) – Sekolah kedokteran di Batavia.

2. Nederland-Indische Artsen School (NIAS) – Sekolah kedokteran di Surabaya.

3. Rechts Hoge School – Sekolah hukum di Batavia.

4. De Technische Hoges School (THS) – Sekolah teknik di Bandung.

 

"Belanda mulai mendirikan sekolah di Indonesia pada tahun 1600-an awal."

 

Sekolah Zaman Pendudukan Jepang

Setelah Jepang berhasil menyerbu Indonesia, seluruh jejak pemerintahan Belanda coba dihapuskan oleh Jepang.

Misalnya saja, semula bahasa Belanda sering jadi bahasa pengantar pengajaran, nah, pada zaman Jepang, bahasa Belanda dilarang.

Bahasa pertama dalam pembelajaran adalah bahasa Indonesia. Ini membuat bangsa Indonesia terbiasa makin terbiasa menggunakan bahasa persatuan ini.

Bahasa keduanya baru bahasa Jepang. Hal ini sebenarnya agak merepotkan guru-guru, karena mereka harus cepat-cepat belajar bahasa Jepang.

Baca Juga: Asal Muasal Sejarah Nenek Moyang Bangsa Indonesia dan Persebarannya

Nah, pendidikan masa Jepang ini cenderung militeristik. Murid-murid sering menyanyikan lagu kebangsaan Jepang, senam bersama menggunakan lagu Jepang, mengibarkan bendera, dan memberikan penghormatan kepada kaisar.

O iya, yang berbeda dari zaman Belanda, pada masa pendudukan Jepang, tidak hanya bangsawan pribumi atau orang-orang kaya saja yang bisa bersekolah.

Jepang juga menyediakan sekolah rakyat sebagai pendidikan dasar, sekolah menengah, dan sekolah kejuruan bagi guru.

Nah, itulah dampak penjajahan di bidang pendidikan. Sekarang cobalah selesaikan soal di bawah ini!

 

Pertanyaan
Mengapa pada Belanda mendirikan sekolah di Indonesia?
Petunjuk: Cek halaman 2.